6 Maret 2022
Peranap, Indonesia
Karena Kita Manusia
Anxiety. Panic attack. Salah satu
musuh terbesarku saat ini. Mau difikir bagaimana pun, tetap tak ada jawaban
mengenai sejak kapan awalnya. Tiba-tiba saja dia menjadi teman akrab yang tak
diinginkan. Setiap dia berkunjung, pasti selalu diiringi dengan rasa tak nyaman
untuk membuka mata atau bertemu siapapun.
Saya rasa realita dunia memang
begitu berat sehingga orang dengan optimisme dan kepercayaan diri yang tinggi sepertiku
pun bisa menjadi korban.
Anxiety. Panic attack. Kedua hal
tersebut benar-benar menggerogoti manusia secara perlahan. Menghancurkan
mimpi-mimpi secara perlahan. Menghilangkan rasa percaya bahwa cinta dan
ketulusan itu ada. Bahkan hingga mematikan harapan akan persahabatan.
Yapp… anxiety tanpa sadar
memunculkan pesimisme, insecure, atau minder, bahkan sinisme dan trust issue.
Ia membuat cinta dan ketulusan seolah hanya tipu daya untuk akhirnya
dimanfaatkan. Bahkan meyakini bahwa semua orang hanya hadir dengan
kepentingannya masing-masing. Bahwa tidak ada manusia yang benar-benar baik dan
tulus.
Katanya, hal-hal seperti ini
sebenarnya telah mengakar lama dalam diri manusia. Seperti tumor atau kanker,
ia tumbuh tanpa terasa. Berasal dari trauma-trauma kecil yang tak pernah
disadari namun terjadi berulangkali dan terus menerus. Hingga akhirnya menjadi
luka tak terobati di alam bawah sadar kita. Trauma.
Dan traumaku, sepertinya berasal
dari manusia. Dari diriku sendiri.
Kamu tau, ada tipe manusia yang
memang hidupnya begitu dinamis. Tidak pernah berhenti di satu tempat untuk
waktu yang lama. Identik dengan perjalanan dan petualangan. Terbiasa hidup
sendiri dan berdiri sendiri. Manusia tipe ini, kelemahannya adalah menganggap
semua manusia lain yang ia temui itu sama baiknya dengan dirinya. Sehingga ia
selalu datang dengan hati terbuka serta penuh harapan bahwa semua akan menjadi
teman yang baik. Ia tak segan memberi sepenuh hati, bahkan mencintai sepenuh hati
sejak awal.
Manusia dinamis ini benar. Memang
banyak sekali manusia yang baik.
Namun,
ia mungkin terlupa bahwa setiap
manusia itu memiliki peperangannya masing-masing. Semuanya baik dan
menyenangkan untuk waktu yang singkat. Tapi, semakin lama waktu dihabiskan,
semakin jauh mengenal, semakin banyak hal-hal perih yang juga dipelajari. Ntah
itu dusta, penghianatan, bahkan kebencian yang tersimpan. Yang kemudian
menjadikan mereka tidak baik lagi, bahkan cenderung menyakiti sebab tak ingin
tau peperangan lain selain yang sedang ia hadapi.
Realita perih ini lah yang terus
berulang terjadi dalam setiap alur perpindahan hidupnya.
Aneh. Tapi di sinilah saya. Masih
dengan energi yang sama ketika menemui manusia-manusia baru. Meskipun,
seringkali energi positif itu sering menjadi boomerang yang menyakitkan.
Pahit. Seperti memori indah yang
tak akan pernah bisa ditemui lagi.
Perih. Seperti tawa-tawa masa
lalu yang menyayat di dalam kesendirian.
Hingga pada akhirnya, saya
menyadari bahwa dari sekian banyak tempat yang kutemui, segitu banyak
persahabatan yang terbentuk, cinta yang dibangun dan hancur, serta ribuan mimpi
yang terbang ke langit, saya tetap kesepian. Tetap sendiri dengan jutaan memori
indah yang semakin menyayat.
Anxiety. Panic attack. Mungkin saya
bukan tidak tahu sebabnya. Namun, hati yang kesepian ini membuat logika tak
berjalan. Ia terus saja dengan mudah menaruh harapan pada mereka yang
membuatnya merasa tenang. Walau tahu bahwa mungkin akan sakit lagi, seolah
sudah mati rasa, ia membuatku tak peduli dengan kecewa yang sudah menunggu di
depan sana.
Hahhh… ternyata alam bawah
sadarku memang sering terluka dengan kenangan manis. Atau mungkin sebenarnya
terhadap kenangan pahit yang sudah dimaafkan, sebab hati dan otak hanya ingin
mengingat hal-hal yang disyukuri, bukan kejadian perih yang juga terjadi di
masa itu.
Miris. Tapi jujur, di setiap
pemberhentian itu. Saya berharap bisa menemukan manusia lain yang bisa
menyembuhkanku dari semua ini. Tempat berbagi semua kenangan indah itu. Tempat
berbagi semua kemenangan. Walau sampai saat ini saya pun masih bertanya-tanya
apakah akan pantas mendapatkan cinta seperti itu? Apakah ada orang yang bisa
menerima saya seperti saya menerimanya?
Ntahlah. Mungkin saya memang
sudah lama mati. Sehingga tak ada rasa takut akan kekecewaan lagi. Ntah itu tentang cinta sepenuh hati yang selalu saya berikan kepada ia yang terpilih. Perjuangan tak kenal takut yang kuhadapi. Keberanian yang begitu besar dalam menghadapi tantangan baru. Saya hanya akan terus maju dan memberikan semua yang terbaik yang ada pada diriku, sebab hanya itu yang membuat saya merasa hidup saat ini.
At least, jika mati akhirnya tiba, saya akan mati dalam keadaan berjuang dan memberi, walau hanya satu arah, bukan dalam keadaan kalah dan meratapi penyesalan.
0 Comments
Posting Komentar